Jumat, 13 Juli 2012

Aku Coba Mengerti Galaumu, Galau Kita Itu

KALAU engkau galau, aku akan engkaukan aku. Galau kita itu, ia datang dari segala kala, ia singgah dari seluruh walau. Ya, galau itu adalah walau, bukan kalau. Walau yang mudah dihalau. Kalau kelak menawarkan atau, bagi aku dan bagi engkau.

Aku Pernah Melihat Senyum Terindah di Dunia

BEGINILAH, hukum dari penghakim ini aku terima: Aku sampai padamu, tapi tak bisa mencapai engkau * Kau sang penghakim itu! Aku yang meminta dijatuhi vonis seberat-beratnya: cinta tak bersambut cinta Dari batas lingkar pagar, aku bukan bagian mereka para turis menyilaukan engkau, menjunjung kamera * Ketika mereka bilang, "Aku sudah lihat senyum itu, senyum terindah di dunia!", aku dengar tangis tiga: tua tangis Leonardo, tajam tangismu, sesak tangisku. Tiga tangis yang bersama-sama, serenta mau berkata, "Kalian tak dengar tangis, tangis terindah di dunia!" * Beginilah, hukum dari penghakim ini aku jalani: tak ada jeruji, tak ada sipir, tak ada jatah nasi Artinya, kau tak tahu harus menjengukku di mana!

Di Matamu, Pejamku Berlabuh

: M Aan Mansyur PADA secawan coto itu, kita dengar lidah bersabda: Tuntutlah rasa sampai ke negeri Mangkasara. Lalu, kita saling suap, dengan satu sendok yang sama, dan saling memejam, menebak apa yang akan terjadi di lidah kita, oleh panas, pedas, kental, dan keruh kuah. "Ini sendok yang keberapa?" kita saling tanya. Aku berkali-kali menyayangi sebilah sendok, lalu patah atau hilang begitu saja. Sendok itu, di suatu hati yang membentang laut sendiri, menjadi pengayuh di tangan seorang pelayar yang asing. * Pada secawan soto itu, kita tebak yang tertakung, di sendok cekung: babat, usus, paru, hati, dan limpa, atau jantung? Segalanya serba sepotong, dan api di dapur belum padam, telah menyala berjam-jam. Engkau sejak semula telah bilang, "nanti aku akan menangis," dengan air mata pedis yang membuat mataku memar, sememar serai, hijau seperti taburan daun seledri, yang semalaman kau iris tipis-tipis, sangat tipis. Kita bisa saja lupa pada kecap, atau perasan jeruk nipis, pada ayat di kitab, atau petikan riwayat hadis, atau pura-pura tak tahu pada ruap uap lengkuas, tapi pada saat-saat manis, setelah bergundah seperti ini, bisakah kita saling meniadakan? Menghapus yang begitu saja ada di sana? Nama yang membaca kita? * Rawan, bimbang, mengapung bagai iris-irisan dari sebatang: panjang daun bawang, sendok kita, mengaduk, seperti dayung perlahan mengelak rumpun kiambang Genangan yang mendanaukan gerimis, sepasang airmata kita. Di mulutmu, mulutku menepi Di lidahmu, lidahku bertambat Di matamu, pejamku berlabuh.

Hari Ini, Betapa Indahnya

SUNGGUH, dunia penuh marabahaya Aku tak akan membantahnya, Aku punya alasan, Tuhan, bahkan ada dua kali banyaknya untuk berkeluh-kesah; Karena datang hujan dan badai, aku resah Dan langit seringkali kelabu; Di jalanan, aku luka oleh jeruju dan semak berduri, tapi bukankah, hari ini alangkah indahnya? Apa gunanya senantiasa menangis, berlalukah bahaya karenanya? Apa gunanya selalu saja memikirkan masa lalu yang sudah berlalu? Segalanya pasti pernah sengsara - Air dengan anggurnya; Hidup, memang bukan sebuah pesta. Marabahaya? Aku pernah menanggungnya, Tapi hari ini, ah, betapa indahnya! Inilah hari, hari kehidupanku, Bukan sebulan yang sudah lalu. Datang; hilang, meraih; memberi; Begitulah beriring waktu Kemarin kabut penderitaan Jatuh di sepanjang jalan, Mungkin akan hujan lagi esok hari, Ya, mungkin akan hujan lagi - tapi aku bilang, Bukankah, ini hari alangkah indah?

Kamis, 12 Juli 2012

Ingatan

INGATAN atasmu adalah gulma, kucabuti sesempatnya, lalu kau tumbuh lagi setabah waktu. Setahan itu kau bertahan, padaku yang tak bisa tahan. Ingatan atasmu adalah benang laba-laba, sarang yang tak pernah selesai, merajut diri sendiri, tapi juga tak pernah bisa habis kubersihkan.

waktu

WAKTU adalah ombak, tak akan pernah sampai ke pantai Kita terima takdir peselancar Hidup dari gerak ke gerak Jika diam, kita tenggelam * Kalau kita jatuh, terbantai, kitalah yang menjadi pantai, Di mana ombak kita berakhir, Kita menyatu menjadi waktu.

Mengatakan Aku, Mengakukan Kata

HANYA kata. Tapi, itulah awal jadi dari segalanya Hari kubuka dengan kata. Hati sembunyi dalam kata * Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata