Jumat, 13 Juli 2012
Aku Coba Mengerti Galaumu, Galau Kita Itu
KALAU engkau galau, aku akan engkaukan aku. Galau kita itu, ia datang dari segala kala, ia singgah dari seluruh walau.
Ya, galau itu adalah walau, bukan kalau. Walau yang mudah dihalau. Kalau kelak menawarkan atau, bagi aku dan bagi engkau.
Aku Pernah Melihat Senyum Terindah di Dunia
BEGINILAH, hukum dari penghakim ini aku terima:
Aku sampai padamu, tapi tak bisa mencapai engkau
*
Kau sang penghakim itu! Aku yang meminta dijatuhi
vonis seberat-beratnya: cinta tak bersambut cinta
Dari batas lingkar pagar, aku bukan bagian mereka
para turis menyilaukan engkau, menjunjung kamera
*
Ketika mereka bilang, "Aku sudah lihat senyum itu,
senyum terindah di dunia!", aku dengar tangis tiga:
tua tangis Leonardo, tajam tangismu, sesak tangisku.
Tiga tangis yang bersama-sama, serenta mau berkata,
"Kalian tak dengar tangis, tangis terindah di dunia!"
*
Beginilah, hukum dari penghakim ini aku jalani:
tak ada jeruji, tak ada sipir, tak ada jatah nasi
Artinya, kau tak tahu harus menjengukku di mana!
Di Matamu, Pejamku Berlabuh
: M Aan Mansyur
PADA secawan coto itu,
kita dengar lidah bersabda:
Tuntutlah rasa sampai ke
negeri Mangkasara.
Lalu, kita saling suap,
dengan satu sendok yang
sama, dan saling memejam,
menebak apa yang akan
terjadi di lidah kita, oleh
panas, pedas, kental, dan
keruh kuah.
"Ini sendok yang keberapa?"
kita saling tanya. Aku
berkali-kali menyayangi
sebilah sendok, lalu patah
atau hilang begitu saja.
Sendok itu, di suatu hati
yang membentang laut sendiri,
menjadi pengayuh di tangan
seorang pelayar yang asing.
*
Pada secawan soto itu,
kita tebak yang tertakung,
di sendok cekung: babat,
usus, paru, hati, dan limpa,
atau jantung? Segalanya
serba sepotong, dan api
di dapur belum padam,
telah menyala berjam-jam.
Engkau sejak semula telah
bilang, "nanti aku akan
menangis," dengan air
mata pedis yang membuat
mataku memar, sememar serai,
hijau seperti taburan daun
seledri, yang semalaman kau
iris tipis-tipis, sangat tipis.
Kita bisa saja lupa pada
kecap, atau perasan jeruk
nipis, pada ayat di kitab,
atau petikan riwayat hadis,
atau pura-pura tak tahu
pada ruap uap lengkuas,
tapi pada saat-saat manis,
setelah bergundah seperti
ini, bisakah kita saling
meniadakan? Menghapus yang
begitu saja ada di sana?
Nama yang membaca kita?
*
Rawan, bimbang, mengapung
bagai iris-irisan dari
sebatang: panjang daun bawang,
sendok kita, mengaduk,
seperti dayung perlahan
mengelak rumpun kiambang
Genangan yang mendanaukan
gerimis, sepasang airmata kita.
Di mulutmu, mulutku menepi
Di lidahmu, lidahku bertambat
Di matamu, pejamku berlabuh.
Hari Ini, Betapa Indahnya
SUNGGUH, dunia penuh marabahaya
Aku tak akan membantahnya,
Aku punya alasan, Tuhan, bahkan ada
dua kali banyaknya untuk berkeluh-kesah;
Karena datang hujan dan badai, aku resah
Dan langit seringkali kelabu;
Di jalanan, aku luka
oleh jeruju dan semak berduri, tapi
bukankah, hari ini alangkah indahnya?
Apa gunanya senantiasa menangis,
berlalukah bahaya karenanya?
Apa gunanya selalu saja memikirkan
masa lalu yang sudah berlalu?
Segalanya pasti pernah sengsara -
Air dengan anggurnya;
Hidup, memang bukan sebuah pesta.
Marabahaya? Aku pernah menanggungnya,
Tapi hari ini, ah, betapa indahnya!
Inilah hari, hari kehidupanku,
Bukan sebulan yang sudah lalu.
Datang; hilang, meraih; memberi;
Begitulah beriring waktu
Kemarin kabut penderitaan
Jatuh di sepanjang jalan,
Mungkin akan hujan lagi esok hari,
Ya, mungkin akan hujan lagi - tapi aku bilang,
Bukankah, ini hari alangkah indah?
Kamis, 12 Juli 2012
Ingatan
INGATAN atasmu adalah gulma, kucabuti sesempatnya, lalu kau tumbuh lagi setabah waktu. Setahan itu kau bertahan, padaku yang tak bisa tahan.
Ingatan atasmu adalah benang laba-laba, sarang yang tak pernah selesai, merajut diri sendiri, tapi juga tak pernah bisa habis kubersihkan.
waktu
WAKTU adalah ombak, tak
akan pernah sampai ke pantai
Kita terima takdir peselancar
Hidup dari gerak ke gerak
Jika diam, kita tenggelam
*
Kalau kita jatuh, terbantai,
kitalah yang menjadi pantai,
Di mana ombak kita berakhir,
Kita menyatu menjadi waktu.
Mengatakan Aku, Mengakukan Kata
HANYA kata. Tapi, itulah awal jadi dari segalanya
Hari kubuka dengan kata. Hati sembunyi dalam kata
*
Aku ingin bebas dari kata, tapi aku menjadi kata
Aku ingin bebas dari aku, dibebaskan oleh kata
Langganan:
Postingan (Atom)